Kedudukan Hukum Ekonomi Syariah

SantuyNesia – Kedudukan hukum ekonomi syariah dalam hukum islam dan hukum indonesia, Kajian hukum ekonomi syariah dalam kajian hukum Islam termasuk dalam kajian al-ahkam al-iktishadiya wa al-maliya (hukum ekonomi dan properti), yang merupakan bagian dari kajian al-ahkam al-muamal (hukum muamalah).

Dalam ajaran Islam, ada fiqh muamalah yang biasanya berarti aturan Allah yang mengatur manusia sebagai makhluk sosial dalam semua urusan duniawi.

Fiqh muamalah secara khusus mengatur berbagai kontrak atau transaksi yang memungkinkan orang untuk saling memiliki harta dan menukar keuntungan berdasarkan ketentuan Islam.

Fiqh muamalah dalam pengertian khusus ini menitikberatkan pada dua hal, yaitu al-muamalat al-madiya (hukum material), yaitu aturan syari’at tentang harta benda sebagai objek transaksi, dan al-muamalat al-adabiya (hukum mengalokasikan harta melalui persetujuan Kabul / transaksi.), Yaitu aturan shaar yang menyangkut manusia sebagai subyek transaksi.

Dengan demikian, secara konseptual hukum ekonomi syariah dan hukum bisnis syariah memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan fiqh muamalah.

Dalam Hukum Islam

Hukum ekonomi syariah, yaitu seperangkat aturan yang terkait dengan praktik ekonomi komersial dan non-komersial seseorang, didasarkan pada berbagai perangkat hukum Islam yang menjadi subjek kajian fiqh muamal, serta hukum bisnis syariah, yaitu seperangkat aturan yang terkait dengan praktik bisnis seperti jual beli, perdagangan dan perdagangan, berdasarkan hukum Islam, yang merupakan kajian fiqh muamalah.

Oleh karena itu, hukum ekonomi syariah merupakan bagian dari kajian muamal fiqh, khususnya kajian al-ahkam al-iktishadiyya wa al-maliya (hukum ekonomi dan properti) dalam kedudukan hukum ekonomi islam.

Baca Juga  Metodologi Ilmu Ekonomi Islam

Dalam konteks Indonesia, pengadilan agama telah diberi kesempatan untuk mempertimbangkan sengketa ekonomi terkait Syariah. Pengadilan agama saat ini tidak hanya berwenang untuk menyelesaikan perselisihan di bidang perkawinan, warisan, wasiat, hibah, sedekah dan sedekah, tetapi juga untuk menyelesaikan aplikasi untuk adopsi (adopsi) dan penyelesaian sengketa zakat, infak dan ekonomi syariah.

Dalam Klarifikasi Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama disebutkan bahwa ekonomi syariah adalah perbuatan atau kegiatan komersial yang dilaksanakan sesuai dengan prinsip syariah, antara lain:

  1. bank syariah
  2. lembaga keuangan mikro syariah;
  3. asuransi syariah;
  4. reasuransi syariah;
  5. reksadana syariah:
  6. obligasi dan surat berharga berjangka menengah syariah;
  7. sekuritas syariah;
  8. pembiayaan syariah;
  9. pegadaian syariah;
  10. dana pensiun lembaga keuangan syariah; dan
  11. bisnis syariah.

Hal ini memberikan penjelasan yang lebih spesifik dalam konteks Indonesia, hukum ekonomi syariah mencakup sejumlah institusi ekonomi tersebut, dan masih terdapat ruang untuk pengembangan lebih lanjut.

Guna memenuhi ketentuan Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama maka disusun Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) yang merupakan kumpulan dari berbagai fiqh yang ada dan beberapa hal yang dianggap ijtihad baru.

Konsekuensinya, hukum ekonomi yang terkandung dalam KHES tentunya merupakan hasil pemikiran manusia yang akan terus berlanjut secara dinamais sesuai dengan waktu. KHES terdiri dari Buku yang diambilnya, Buku I tentang Hukum dan Mata Pelajaran Amwal, Buku II tentang Akad Syariah, Buku III tentang Zakat dan Hibah, dan Buku IV tentang Akuntansi Syariah.

Baca Juga  Prinsip Hukum Ekonomi Syariah

Untuk melihat tempat hukum ekonomi syariah dalam peta hukum nasional, maka perlu melihat partisipan saat ini dalam hukum nasional. Dalam perkembangan hukum nasional terdapat tiga unsur sumber hukum yang mempunyai kedudukan yang sama dan seimbang yaitu hukum adat (hukum kebiasaan), hukum dari Barat dan hukum Islam.

Hukum Islam merupakan hukum agama yang hidup dalam masyarakat muslim Indonesia, sehingga menjadi salah satu sumber hukum dalam perumusan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Azizi berpendapat bahwa positivisasi hukum harus menjadikan hukum Islam sebagai sumber pembuatan hukum, termasuk dalam putusan, adat istiadat, dan doktrin hakim.

Dalam Hukum Indonesia

Kedudukan hukum ekonomi syariah di Indonesia harus menjamin kebebasan keinginan masyarakat untuk menjalankan ajaran agama, termasuk melakukan transaksi atau kegiatan ekonomi dan bisnis yang sesuai dengan ajaran agama yang di anut masyarakat.

Namun perlu ditekankan bahwa dalam konteks sistem hukum nasional Indonesia, hukum ekonomi syariah akan memperoleh kekuatan hukum dan menjadi mengikat ketika mendapat penguatan dan legitimasi dari pemerintah dalam bentuk positivisasi hukum berupa undang-undang, kodrat, dan berbagai produk hukum lainnya yang sejalan dengan berbagai hukum perekonomian. syariah.

Baca Juga  Sumber Hukum Ekonomi Syariah

Secara khusus, sejumlah undang-undang ekonomi telah dimasukkan ke dalam peraturan perundang-undangan nasional, termasuk Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), Perintah Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah(KHES), serta sejumlah peraturan dan surat edaran yang diterbitkan sesuai dengan Fatwa- fatwa DSN MUI


Referensi :

  • Ibdalsyah dan Hensti Tanjung, Figh Muamalah, (Bogor: Azam Begor, 2014), h. 13 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: RajaGrafindo, Cet. ke-9. 2014), h. 1-3.
  • Rachmat Syafei, Fiqh Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia, 2006), h. 17
  • Aldul Mughits, “Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah dalam Tinjauan Hukum Islam.” Jurnal al-Mawarid Edisi XVIII tahun 2008, h. 146.
  • A. Qodri Aziziy, Eklekstisisme Hukum Nasional: Kompetisi antara Hukum Islam dan Hukum Umum, Cet. ke-1 (Yogyakarta: Gama Media, 2002), h. 171-173. Andri Soemitra, Masa Depan Pasar Modal Syariah di Indonesia, (Jakarta: Kencana-PrenadaMedia Group, 2014), h. 104-105.
  • A. Qodri Aziziy, Eklekstisisme Hukum Nasional, Cet. ke-1, (Yogyakarta: Gama Media, 2002), h. 176-177.
  • Andri Soemitra, Masa Depan Pasar Modal Syariah di Indonesia (Jakarta: Kencana-PrenadaMedia Group, 2014), h. 104-105.
  • Yeni Salma Barlinti, Kedudukan Fatwa Dewan Syariah Nasional dalam Sistem Hukum Nasional di Indonesia, Cet. ke-1 (Balitbang Kemenag RI, Desember 2010), h. 556

Leave a Reply

Virtual Address

Search Engine Google, Bing, Yahoo, Baidu, Yandex and Duckduckgo