Perlakuan Riba dalam Pegadaian Syariah

Afzalur Rahman secara singkat telah menggambarkan apa yang dimaksud dengan riba, di mana ia menjelaskan bahwa riba itu terdiri dari tiga unsur utama, yaitu:

  1. Kelebihan atau untung yang diperoleh dari pokok pinjaman.
  2. Untung atau kelebihan dari pokok pinjaman dianggap sebagai imbalan atau bayaran atas jangka waktu pinjaman.
  3. Kelebihan atau tambahan tersebut secara tegas dimasukkan dan dinyatakan dalam kontrak atau perjanjian.

Umumnya, riba itu sendiri sangat sering dipraktikkan di lembaga-lembaga konvensional, karena tujuan utama lembaga tersebut yaitu untuk memperoleh keuntungan yang maksimal dengan berbagai cara tanpa mempertimbangkan aspek syariah.

Lalu bagaimana dengan lembaga syariah, khususnya pegadaian syariah, apakah perlakuan riba dalam pegadaian syariah sama dengan yang ada dalam pegadaian konvensional?

Baca Juga  Penyusunan Anggaran dalam Manajemen Keuangan

Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentunya kita harus mengacu pada prinsip dasar dari pegadaian syariah itu sendiri, yang mana pegadaian syariah beroperasi sesuai hukum Islam, jadi sudah tentu riba sangat dilarang dalam sistem pegadaian syariah.

Secara umum, aturan-aturan Islam terkait pegadaian syariah antara lain:

  • Cara dan tujuan yang diterapkan pegadaian syariah harus tidak merugikan pihak lain dan tidak mengandung unsur-unsur yang dapat merusak akad, misalnya maysir (perjudian), gharar (ketidaktahuan kedua belah pihak), riba, tadlis (penipuan) dan berbagai hal terlarang lainnya.
  • Sistem operasional pegadaian syariah harus mengacu pada Al-Qur’an dan Hadis.
  • Pegadaian syariah tidak boleh membiayai proyek atau bisnis haram.

Jika riba dengan tegas dilarang dalam pegadaian syariah, maka sistem apa yang digunakan pegadaian syariah dalam memperoleh keuntungan?

Baca Juga  Pegadaian Syariah (Rahn): Pengertian, Landasan Hukum, Rukun, dan Syarat

Tentunya, ada banyak solusi yang ditawarkan dalam Islam untuk melancarkan praktik pegadaian syariah, di antaranya yaitu Islam menawarkan skema atau akad qardhul hasan, mudharabah, bai muqayyadah, ijarah, musyarakah, dan sebagainya.

Dan yang paling populer di pegadaian syariah yaitu akad rahn dan ijarah.

Dengan berbagai akad yang ditawarkan tersebut, jika diterapkan dengan sepenuh hati oleh pihak pegadaian syariah, maka pegadaian syariah dapat beroperasi dengan baik, tanpa harus berhubungan dengan riba dan berbagai praktik terlarang lainnya.

Leave a Reply

Virtual Address

Search Engine Google, Bing, Yahoo, Baidu, Yandex and Duckduckgo